Bab 1: Nafas yang Tertahan
Pagi itu, riuh rendah suara mesin cetak dan ketikan papan tik memenuhi ruangan. Di tengah hiruk-pikuk itu, aku duduk mematung.
"Tarik nafas panjang... dan hembuskan. Huuuuuuu..."
Aku mencoba mencari titik nol di dalam kepalaku. Di depanku, meja kayu ini masih terasa asing. Wangi kopi dari meja sebelah dan tumpukan dokumen di sudut ruangan seolah-olah sedang mengujiku. Aku adalah "anak baru"—sebuah identitas yang membuatku merasa seperti kurcaci di tengah raksasa.
Bab 2: Labirin Kebingungan
Ini adalah kontrak pertamaku. Pekerjaan pertamaku. Dunia yang selama ini hanya kubayangkan dalam teori, kini ada di depan mata. Namun, kenyataannya? Aku bingung harus melakukan apa.
Setiap kali aku melihat rekan kerja yang lain berlalu-lalang dengan langkah mantap, jantungku berdegup lebih kencang. Aku takut.
Takut dianggap tidak bekerja.
Takut dianggap hanya menjadi pajangan.
Takut jika aku diam, orang akan berpikir aku pemalas.
Akhirnya, aku mulai menyibukkan diri dengan hal-hal kecil. Merapikan pulpen yang sudah rapi, menyusun ulang kertas, atau sekadar menatap layar komputer dengan dahi berkerut—berusaha terlihat sangat sibuk.
Bab 3: Perang di Dalam Kepala
Keinginanku besar. Aku ingin membantu, ingin memberikan kontribusi, ingin menjadi bagian dari tim ini.
"Aku ingin melakukan ini!" bisik hatiku.
"Tapi... bagaimana kalau salah?" balas ketakutanku dengan lebih keras.
Dilema itu berputar-putar seperti gasing. Setiap kali aku ingin bertanya, lidahku kelu. Setiap kali aku ingin bergerak, kakiku terasa berat. Rasa takut salah seolah-olah menjadi tembok transparan yang mengurungku di kursi ini.
Bab 4: Hening yang Berbisik
Sekali lagi, aku memejamkan mata.
Tarik nafas yang sangat dalam... Aku membiarkan paru-paruku terisi penuh oleh udara dingin kantor ini. Lalu, aku menghembuskannya dengan kuat dan panjang. Tapi kali ini, aku melakukannya dalam diam. Tanpa suara. Hanya aku dan kesunyian di dalam batinku.
Di balik hembusan nafas itu, ada sebuah janji kecil yang sedang ku bangun. Bahwa besok, atau mungkin satu jam lagi, aku akan mencoba melangkah sedikit lebih jauh.
BERSAMBUNG...